Thursday, November 03, 2011

Aku dan perempuan itu.

Aku ingat kata-katanya yang menusuk relung hatiku, mementalkan ingatanku pada tahun-tahun dimana aku sangat labil dan bagai porselen retak. Kami mencintai orang yang sama-sama tidak dapat kami rengkuh. Melepaskannya untuk sesuatu hal yang lebih baik, karena kami akan menjadi mimpi buruk bagi mereka berdua.

Aku pun ingat bagaimana dia bercerita tentang keluarganya yang broken home, kisah cintanya yang tragis dan menjadikannya trauma. Ya. Dia trauma. Dia tidak menikah hingga saat ini. Dan aku? Aku pernah beradu idealisme dengan mama 'mengapa setiap perempuan harus menikah'. Aku pernah memaparkan apa yang aku lakukan jika aku tidak menikah. Aku pernah memaparkan rencana kedepan hingga hari tua, apa yang akan aku lakukan kala aku sendirian. Aku katakan mulai dari menabung untuk diriku sendiri, mengasuh diriku kala aku tua, mengatasi kesepian hingga bagaimana mengatasi kebutuhan atas sex, hingga apa yang akan aku lakukan jika aku mendadak meninggal dunia atau jika aku meninggal dunia pada usia lanjut. Aku jelaskan apa yang harus dilakukan dan bahwa kematianku tidak akan membebani siapapun, walaupun aku tidak menikah. Mungkin aku akan memesan peti mati dan karangan bunga untuk diriku sendiri dan menitipkan wasiatku pada orang yang aku percaya... Rencana-rencanaku, membuat mama tercengang-cengang dan semakin menyuruhku untuk bergegas. Sebab aku membuatnya stress dan tidak dapat tidur nyenyak setiap malam. Walaupun aku kalah, walaupun aku menikmati dan bersyukur atas keluargaku sekarang, aku tidak akan pernah lupa saat-saat aku berada dekat dengan lingkungan itu. Saat aku memaksa hatiku untuk dekat dengan seseorang, memandangnya dengan mata yang berbeda dan tentu saja, membuat para lelaki berpikir ulang untuk mengencaniku. Aku sangat-sangat-sangat labil ketika itu.


God!
Aku menghela napas dan kembali bertanya kepada hatiku, mengapa hingga saat ini aku tidak menentang pernikahan para kaum gay ataupun tidak bersikap sinis pada mereka yang banci ataupun gay. Mengapa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol dan memahami caraku berpikir, bahwa aku memandang keseimbangan dunia dengan 'bagaimana jika kamu menjadi mereka." Well, kamu tidak akan menentang mereka ketika kamu ada didalamnya. Percayalah, tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan atau menjadi 'berbeda'.

1 komentar:

zahrahanifah said...

manusia pada dasarnya universal. ia dilahirkan dengan substansi yang sama. hanya kemudian yang menentukan hidup manusia itu adl keputusan atas pilihan-pilihan yang ia punya. hanya masalah penggunaan akal yang akan membedakan manusia dengan manusia lain. kebenaran universal.. gak akan berubah bahkan jika ada di sudut pandang manapun. hanya masalahnya selalu ada pada manusia.. yang seringkali hanya berlandaskan id.