Orang bilang tangisan adalah obat mujarab yang bisa melegakan beban hati. Aku ingin dapat menangis agar beban hatiku lebih ringan. Tapi aku tidak bisa. Walau aku pantas untuk menangis, hari ini.
Bertahun-tahun yang lalu, sejak aku sadar kata-kata dapat menjadi corong perasaan dan menjadi dunia kedua... aku sudah berhenti curhat. Aku berhenti berteriak dan bercerita pada teman-temanku. Akupun berhenti menangis pada mereka. Aku menuangkannya pada kata-kata, dimana aku dapat menulis segala biru hingga muntahan yang tidak mampu aku tampung sendirian. Kala suka, duka ataupun marah, aku akan menulis. Tak ada lappie, aku akan menulis di hapeku. Aku bisa menulis hingga berparagraf2 lewat keypad hape yang menyebalkan. Tapi itu sangat membantu. Kalau tidak, aku sudah lama mati.
Hasilnya, aku menulis banyak blog yang urung aku posting. Aku mengendapkan tulisanku hingga berhari-hari, berminggu-minggu sejauh aku ingat bahwa ada tulisan yang tidak menyenangkan diblogku dan harus aku urai. Setelah semuanya reda, aku akan menghapusnya. Begitulah caraku curhat. Aku melakukannya hingga bertahun-tahun dan menjadi candu. Aku terlatih untuk menangis didepan laptopku. Aku terlatih untuk berbicara dengan suara normal kala menjawab telpon walau air mataku membanjir. Dan jika aku merasa tangisanku terlalu lama, aku akan mencari cermin. Biasanya aku malu melihat air mata dan itu memaksaku untuk berhenti menangis. Itu rahasia kecilku. Namun sekarang tidak lagi.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lewat, aku curhat pada sahabatku. Sebab beban ini diluar batas kemampuanku. Hati kecilku berkata sangat mudah menelponnya dan menangis, tapi aku hanyalah seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik jari jemari yang menari. Aku ingin sekali dapat bersuara, menangis atau menjerit.. tapi aku tidak bisa. Seketika aku baru sadar, AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA LAGI! Mungkin sesekali aku menangis, tapi aku terlatih untuk tidak bersuara. Ada kalanya aku ingin sekali berteriak, namun jemariku hanya mampu memencet 'CAPSLOCK' lalu, berteriaklah. Lebih mudah bagiku untuk menangis karena film kartun yang mengharukan. Seperti film UP, beginingnya yang selalu membuatku menangis...atau film Toy Story 3, walau anak-anakku memutarnya sudah lebih dari 50x ---> endingnya tetap membuatku menangis. Seperti itulah tangisanku. Sebuah cara yang bagimu aneh tapi terbaik untukku.
Sudah bertahun-tahun kata-kata menjadi penerjemah setia untuk setiap air mataku. Seorang teman berkata aku terlalu sinis sehingga hatiku membatu. Terserahlah bagaimana menilaiku. Yang pasti...ada ribuan puisi yang terurai, rasa yang hanya aku tahu apa maknanya. Aku mungkin banyak berubah, tapi ada satu hal yang tetap sama.
Thursday, September 29, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment