Sudah dari dulu aku tahu aku darah rendah. Dengan berat hanya 41-42kg, aku selalu ditolak PMI kala aku ingin menyumbangkan darahku. Katanya berat tubuh minimum 45kg. Gemukin dulu, mbak...katanya. Gemukin? Aku susah gemuk, mas... Aku ini kurang darah! Tapi aku ingin sekali menyumbang, karena hal itu mungkin saja membuat siklus peredaran darahku lebih segar.
Lalu tentang gamang itu...
Darah rendah membuatku repot. Aku pusing kala naik mobil dan harus melongok ke belakang. Aku pusing kala mencari barang2 yang jatuh/terselip di mobil, dan (sekarang) aku pusing kala berada dikeramaian dan aku tidak dapat melihat jelas siapa yang ada disekelilingku. Mereka terlihat seperti wajah-wajah yang 'blur' tanpa bisa kutangkap detilnya, LAGI.
Satu minggu terakhir ini aku semakin gamang. Terkadang aku merasa ada gempa sebab tubuhku mendadak oleng atau penglihatanku seketika suram. Bukan gelap, tapi suram. Tapi tidak, tidak-ada-gempa dan siang pun tidak mendadak menjadi malam. Lalu aku sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhku sehingga membuatku oleng. Aku tidak ingin tahu sebabnya. Aku hanya ingin lebih giat bekerja, menyenangkan diriku dan melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan, termasuk rutinitas meminum obat-obatanku.
Monday, February 13, 2012
Monday, January 30, 2012
DAISYFLO, terbit Februari 2012.

Hmm... speechless.
Ini novel yang membuatku menangis ketika menulisnya, bersemangat karena alurnya yang begitu kompleks, terlena karena karakter-karakternya yang memukau, marah karena konfliknya tidak berkesudahan. Seseorang yang mencintai, dipermainkan nasib dan belajar untuk memaafkan.
DAISYFLO,
bagiku bukan sekedar novel. Ini adalah sebuah ungkapan kerinduan yang meledak dan menjadikanku tiada arti. Aku mencintai karakter-karakter didalamnya, walaupun mereka hampir membuatku gila.
Ini novel yang bikinnya lamaaa banget dan paling niat revisinya. Sampai2 editorku, Mba Hetih terus menyemangati karena dia percaya banyak hal yang dapat aku kembangkan di novel ini. Saking semangatnya, Mba Hetih sudah wanti2 untuk novel berikutnya hehehehe.... AMIN!
Daisyflo,
segera meluncur FEBRUARI ini dan akan tersedia di seluruh Toko Buku Gramedia. Jangan lewatkan!! Baca, resapi dan email aku untuk feedbacknya di ms_jutek@yahoo.com atau FB: Yennie Tarjono Hardiwidjaja.
Aku ingin tahu isi hatimu.
Thursday, November 17, 2011
Laki-laki Dua Belas Abad 2
I go nowhere.
You will find me.
Ada rasa marah, benci dan rindu yang meledak bersamaan. Aku ingin sekali memukul dadanya, dan mendorongnya kala dia berusaha merengkuhku -- seperti dua belas abad yang lalu. Kini kisahnya menjadi semakin utuh. Lagi-lagi, aku tidak dapat melepaskan sosok itu. Adakah wajah lain dapat memotong benang merah ini?
"Bidadari Kedua".
Sekarang aku mengerti.
You will find me.
Ada rasa marah, benci dan rindu yang meledak bersamaan. Aku ingin sekali memukul dadanya, dan mendorongnya kala dia berusaha merengkuhku -- seperti dua belas abad yang lalu. Kini kisahnya menjadi semakin utuh. Lagi-lagi, aku tidak dapat melepaskan sosok itu. Adakah wajah lain dapat memotong benang merah ini?
"Bidadari Kedua".
Sekarang aku mengerti.
Wednesday, November 16, 2011
Laki-laki Dua Belas Abad.
Kemarin dia menemukan pangerannya. Segurat wajah yang dapat mencuri berpasang mata. Dia tahu tidak ada yang salah dengan wajah itu, sebab selain mata dengan kerutan yang khas, sungguh... tidak ada yang salah dengan wajah itu selain pikirnya. Sebab wajah itu melontarkannya pada sebuah jarak. Yang tidak mampu lagi dihitungnya. Aku melihat wajahnya bersemu merah, sebab dia mencoba mematri kerutan di sepasang matanya, melukisnya pada ingatan. Dia ingat bahwa dia pernah menemukan bayangnya pada sepasang mata itu. Lalu seseorang mencium punggung tangannya, dan membawanya melintasi manusia-manusia yang menari.
Dua belas tahun adalah dua belas abad, sebab ada separuh jiwa yang melayang bersama kisah itu. Selanjutnya dia tidak pernah melihatnya lagi, sebab malam itu dia meninggalkannya ketika laki-laki itu memintanya untuk hidup bersamanya. Dia ingin, namun dia memutuskan pergi meninggalkan satu-satunya manusia yang dicintainya. Kini dia dapat melihat tubuh itu tidak terlampau tinggi darinya, dan sebuah jarak kosong yang dapat dihitungnya. Namun bahu itu, seperti sebuah bahu yang pernah mendekapnya begitu erat bagai kemarin. Dia mencoba melukis wajah itu, dan dia takut wajah itu akan meluruhkan wajah laki-laki yang selalu dicintainya.
Hari itu aku melihatnya mencari laki-laki dua belas abad. Dia ingin menemukan apa yang terjadi padanya, setelah malam itu.
Dua belas tahun adalah dua belas abad, sebab ada separuh jiwa yang melayang bersama kisah itu. Selanjutnya dia tidak pernah melihatnya lagi, sebab malam itu dia meninggalkannya ketika laki-laki itu memintanya untuk hidup bersamanya. Dia ingin, namun dia memutuskan pergi meninggalkan satu-satunya manusia yang dicintainya. Kini dia dapat melihat tubuh itu tidak terlampau tinggi darinya, dan sebuah jarak kosong yang dapat dihitungnya. Namun bahu itu, seperti sebuah bahu yang pernah mendekapnya begitu erat bagai kemarin. Dia mencoba melukis wajah itu, dan dia takut wajah itu akan meluruhkan wajah laki-laki yang selalu dicintainya.
Hari itu aku melihatnya mencari laki-laki dua belas abad. Dia ingin menemukan apa yang terjadi padanya, setelah malam itu.
Pacha.
Hari Minggu, tanggal 13 November 2011 lalu ada acara peluncuran buku oleh Pastor Peter F Tukan. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke Gereja St. Don Bosco - Sunter, untuk mengucapkan SELAMAT atas kerja kerasnya. Pastor Peter adalah sosok yang aku kagumi. Beliau sangat kreatif, berjiwa muda dan dekat dengan para umat.
Ada juga acara show alat musik khas Amerika Latin, namanya PACHA. Indaaahhh banget. Aku sampai termangu-manggu sambil videoin Pacha memainkan alat musik tiup ini. Menikmatinya secara live, membuat mataku berkaca-kaca. Aku sangat kagum dengan ketekunannya mempelajari alat musik ini, sehingga bisa dimainkan dan dinikmati semua orang.

Ada juga acara show alat musik khas Amerika Latin, namanya PACHA. Indaaahhh banget. Aku sampai termangu-manggu sambil videoin Pacha memainkan alat musik tiup ini. Menikmatinya secara live, membuat mataku berkaca-kaca. Aku sangat kagum dengan ketekunannya mempelajari alat musik ini, sehingga bisa dimainkan dan dinikmati semua orang.

Trus ada acara lelang lukisan rohani. Lukisannya canttiikk banget. Goresan kuasnya sangat halus dengan gradasi yang blending abis. Hasilnya, lumayan... puas memelototi lukisan, aku nguber2 pelukisnya cuma buat ngasih selamat dan memuji hasil karyanya. Puas aja pokoknya... Hubby sampai bingung. Ya, beginilah caraku menghargai karya seni. Kalo enggak berdecak kagum, nangis ya aku nguber yang bikin ehehhehe....


Balik lagi... acara ini dipandu oleh Olga Lidya. Doi cantik, tinggi dan ramah :D
Acara ditutup dengan Pemahkotaan Bunda Maria. Ada umat yang (pingsan?), aku tidak tahu apa istilahnya dalam Katolik (Kharismatik/kerasukan) atau apa... tapi aku melihat orang itu menangis sesekali. Suasana memang lumayan khusyuk. Biasanya kalau suasana kayak gini, tengukku sangat mudah terasa 'berat' dan sensitivitasku 'on'. Dan memang pas giliranku kok nih tenguk berat amat... dan pegal. Hmm...


Balik lagi... acara ini dipandu oleh Olga Lidya. Doi cantik, tinggi dan ramah :D
Acara ditutup dengan Pemahkotaan Bunda Maria. Ada umat yang (pingsan?), aku tidak tahu apa istilahnya dalam Katolik (Kharismatik/kerasukan) atau apa... tapi aku melihat orang itu menangis sesekali. Suasana memang lumayan khusyuk. Biasanya kalau suasana kayak gini, tengukku sangat mudah terasa 'berat' dan sensitivitasku 'on'. Dan memang pas giliranku kok nih tenguk berat amat... dan pegal. Hmm...
Congrats untuk semuanya yah!
Wednesday, November 09, 2011
Rekaman?
"Oi Yen, lagunya udah jadi!"
"Lagu apaan ya.. jiah elu.... gue minta kapan jadinya kapan.. Gue telanjur makan cabe nih!"
"Gak apa, tar olah vokal juga beres."
"Suara gue udah pecah abis. Gue ngomong aja pecah. Mang lagu apa hehehhe..."
"Rohani kan..."
"Yaaahhh... pendalaman iman gue kacau gini.."
"LHoo... kan elo maunya rohani."
"IYe, tadinya kan gue mikir bakal buru2 pendalaman iman biar muka gue lebih familiar tapi ya ginilah... (hiks)."
"Udah gak apa-apa. Take aja dulu. Yok, ke studio."
"Elu aransemen lagu gue aja deh, gue ada lagu. Tapi belom ada lirik. Bagus kok..."
"Bawa aja. Tar sekalian take."
"Suara cempreng gini.... orang mati aja bisa bangkit lagi denger gue nyanyi...."
"BAgus dong!"
"Sialan lo... hehhehe... Malu ah, tua gini bikin album. Eh single ya.. Eit, gue sealbum sama anak-anak donggg..."
"KOmplikasi lah. Ada dewasa juga."
"Addoooohhhh... anggap gue becande deh taon laluuu.... Udah expired perjanjiannya."
"Trus lagunya gimana neeekkk... Gue baru bisa kerjain sekarang. Pokoknya lo kesini!"
"Galak amat. Ya udah gue mampir! Lo denger sendiri suara gue! Udah emak-emak gini... Gila apa..."
"Kris Dayanti juga emak-emak..."
"ITU KRIS DAYANTE GILAAA..... Menghina apa meledek nih." (Suara ngakak berat diseberang... grr..) "Nah kan, gue belom mampir aja elo udah ketawa. Sengaja lo ya, mau ngetawain gue."
"Terserah deeee... Pokoknya gue punya lagu, lo tanggung jawab. Nadanya enggak tinggi-tinggi kok..."
"Makasih koko." (ngeledek!) "Trus kerjaan gue gimana..."
"Ya sekalian lah. Barengin."
"Jadi maksud lo gue jualan rambut sambil nyanyi gitu..."
"Bukannya elo nulis.."
"Nah kan, udah ketinggalan banyak lo story guee..."
"Hehehhe.... Gue tunggu deh! Tiap hari gue disini."
"Belom dikontrak udah ngancem..." (cielaahhh...) "Tengs ya! Hehehe..."
Rekaman? Gila nih orang.. belom tau dia suara gue jeleknya kayak apa... ck..ck.... Eniwei makasih yah! hihihi...
"Lagu apaan ya.. jiah elu.... gue minta kapan jadinya kapan.. Gue telanjur makan cabe nih!"
"Gak apa, tar olah vokal juga beres."
"Suara gue udah pecah abis. Gue ngomong aja pecah. Mang lagu apa hehehhe..."
"Rohani kan..."
"Yaaahhh... pendalaman iman gue kacau gini.."
"LHoo... kan elo maunya rohani."
"IYe, tadinya kan gue mikir bakal buru2 pendalaman iman biar muka gue lebih familiar tapi ya ginilah... (hiks)."
"Udah gak apa-apa. Take aja dulu. Yok, ke studio."
"Elu aransemen lagu gue aja deh, gue ada lagu. Tapi belom ada lirik. Bagus kok..."
"Bawa aja. Tar sekalian take."
"Suara cempreng gini.... orang mati aja bisa bangkit lagi denger gue nyanyi...."
"BAgus dong!"
"Sialan lo... hehhehe... Malu ah, tua gini bikin album. Eh single ya.. Eit, gue sealbum sama anak-anak donggg..."
"KOmplikasi lah. Ada dewasa juga."
"Addoooohhhh... anggap gue becande deh taon laluuu.... Udah expired perjanjiannya."
"Trus lagunya gimana neeekkk... Gue baru bisa kerjain sekarang. Pokoknya lo kesini!"
"Galak amat. Ya udah gue mampir! Lo denger sendiri suara gue! Udah emak-emak gini... Gila apa..."
"Kris Dayanti juga emak-emak..."
"ITU KRIS DAYANTE GILAAA..... Menghina apa meledek nih." (Suara ngakak berat diseberang... grr..) "Nah kan, gue belom mampir aja elo udah ketawa. Sengaja lo ya, mau ngetawain gue."
"Terserah deeee... Pokoknya gue punya lagu, lo tanggung jawab. Nadanya enggak tinggi-tinggi kok..."
"Makasih koko." (ngeledek!) "Trus kerjaan gue gimana..."
"Ya sekalian lah. Barengin."
"Jadi maksud lo gue jualan rambut sambil nyanyi gitu..."
"Bukannya elo nulis.."
"Nah kan, udah ketinggalan banyak lo story guee..."
"Hehehhe.... Gue tunggu deh! Tiap hari gue disini."
"Belom dikontrak udah ngancem..." (cielaahhh...) "Tengs ya! Hehehe..."
Rekaman? Gila nih orang.. belom tau dia suara gue jeleknya kayak apa... ck..ck.... Eniwei makasih yah! hihihi...
Tuesday, November 08, 2011
Pak Soleh.
Ada beberapa hal menarik yang kutemukan ketika sedang mengerjakan desain interior rumahku. Aku jadi memerhatikan beberapa detail yang dulu pernah terlewatkan. Aku senang karena jendela sudah menggunakan jendela alumunium, jadi enggak pake acara 'yang salah kayunya'.
Dulu kami mempunyai tukang bernama Pak Soleh. Postur tubuhnya gempal, dengan muka yang adeemm banget kalau dilihat. Dia tukang yang jujur dan baik. Saking baiknya, kadang kami bisa 'berhutang' dulu untuk membeli bahan, bahkan setelah selesai masih bisa ditempo hehehhe... Cara kerjanya, so pasti karena orangnya baik udah pasti slowly. Inisiatif, kurang (karena Pak Soleh ini lebih suka bersifat nrimo dan pasrah). Jadi jangan heran anak buahnya pun bekerja ala teman, enggak cepat - lambet iya - kadang suka2 hati kapan kelar. Soal harga, negosiasi abis. Tapi jangan heran kalau saking murahnya tiba2 bahan yang dibeli lain dari yang dinegoin. "Lha duitnya kurang non..." Busett.. bilang pak, bilang...
Btw, kami suka padanya. Karena dia jujur dan cukup rapi.
Ngobrol2, aku pernah merenovasi kusen jendela yang terbuat dari kayu. Maka aku memintanya untuk membeli kusen kayu yang berkualitas baik tapi dengan harga terjangkau. Disepakati kayu A, lalu dipesan dan dipasang. Anehnya, setiap musim hujan tiba, daun jendela tidak bisa ditutup rapat. Hal ini kami keluhkan berulang2 pada Pak Soleh dan dia selalu mampir untuk memperbaikinya.
"Nih kusennya kenapa ya pak.. tiap musim hujan jendelanya gak bisa nutup."
"Anu non, ini kayunya melar."
"Kok bisa melar pak, katanya kayu bagus..."
"Lha semua kayu kalau kena air pasti melar toh nonn..."
"Trus, ini gimana pak..."
"Ya mesti dikikir."
"Dikikir aja? Tapi.. kalau ketemu musim hujan lagi trus gak bisa nutup lagi gimana toh pak..."
"Ya tinggal dikikir aja nonnn..."
Gubraks! "Jadi tiap musim hujan aku mesti kikir nih pak?"
"Lha iyalaahh... si non...!"
Pusing tujuh keliling.
"Kata bapak kayunya baguuusss... Masa tiap hujan jendela saya nggak bisa nutup. Gimana nih bapak, saya baru denger yang beginian."
"Lha si non kan mau muraahh.."
"Tapi kata bapak kayunya udah bagusss..."
"Lha kayu bagus kan bisa muai juga non! Oalaahh..."
Masa sih.... "Ya sudah kikir aja! Jadi setiap musim hujan saya telpon bapak buat kikir yah?"
"Ndak masalah non,"
Bingung juga. Lama-lama kayunya abis dong, kalo dikikir mulu. Tau nih si bapak... Eniwei kami selalu suka padanya. Dia tukang keluarga yang mau mengerjakan apa saja. Tapi untuk beberapa hal yang structural, tentu saja kami tidak berani... berabe kalo yang disalahin 'bahannya' melulu hehehhe...
Dulu kami mempunyai tukang bernama Pak Soleh. Postur tubuhnya gempal, dengan muka yang adeemm banget kalau dilihat. Dia tukang yang jujur dan baik. Saking baiknya, kadang kami bisa 'berhutang' dulu untuk membeli bahan, bahkan setelah selesai masih bisa ditempo hehehhe... Cara kerjanya, so pasti karena orangnya baik udah pasti slowly. Inisiatif, kurang (karena Pak Soleh ini lebih suka bersifat nrimo dan pasrah). Jadi jangan heran anak buahnya pun bekerja ala teman, enggak cepat - lambet iya - kadang suka2 hati kapan kelar. Soal harga, negosiasi abis. Tapi jangan heran kalau saking murahnya tiba2 bahan yang dibeli lain dari yang dinegoin. "Lha duitnya kurang non..." Busett.. bilang pak, bilang...
Btw, kami suka padanya. Karena dia jujur dan cukup rapi.
Ngobrol2, aku pernah merenovasi kusen jendela yang terbuat dari kayu. Maka aku memintanya untuk membeli kusen kayu yang berkualitas baik tapi dengan harga terjangkau. Disepakati kayu A, lalu dipesan dan dipasang. Anehnya, setiap musim hujan tiba, daun jendela tidak bisa ditutup rapat. Hal ini kami keluhkan berulang2 pada Pak Soleh dan dia selalu mampir untuk memperbaikinya.
"Nih kusennya kenapa ya pak.. tiap musim hujan jendelanya gak bisa nutup."
"Anu non, ini kayunya melar."
"Kok bisa melar pak, katanya kayu bagus..."
"Lha semua kayu kalau kena air pasti melar toh nonn..."
"Trus, ini gimana pak..."
"Ya mesti dikikir."
"Dikikir aja? Tapi.. kalau ketemu musim hujan lagi trus gak bisa nutup lagi gimana toh pak..."
"Ya tinggal dikikir aja nonnn..."
Gubraks! "Jadi tiap musim hujan aku mesti kikir nih pak?"
"Lha iyalaahh... si non...!"
Pusing tujuh keliling.
"Kata bapak kayunya baguuusss... Masa tiap hujan jendela saya nggak bisa nutup. Gimana nih bapak, saya baru denger yang beginian."
"Lha si non kan mau muraahh.."
"Tapi kata bapak kayunya udah bagusss..."
"Lha kayu bagus kan bisa muai juga non! Oalaahh..."
Masa sih.... "Ya sudah kikir aja! Jadi setiap musim hujan saya telpon bapak buat kikir yah?"
"Ndak masalah non,"
Bingung juga. Lama-lama kayunya abis dong, kalo dikikir mulu. Tau nih si bapak... Eniwei kami selalu suka padanya. Dia tukang keluarga yang mau mengerjakan apa saja. Tapi untuk beberapa hal yang structural, tentu saja kami tidak berani... berabe kalo yang disalahin 'bahannya' melulu hehehhe...
Thursday, November 03, 2011
Aku dan perempuan itu.
Aku ingat kata-katanya yang menusuk relung hatiku, mementalkan ingatanku pada tahun-tahun dimana aku sangat labil dan bagai porselen retak. Kami mencintai orang yang sama-sama tidak dapat kami rengkuh. Melepaskannya untuk sesuatu hal yang lebih baik, karena kami akan menjadi mimpi buruk bagi mereka berdua.
Aku pun ingat bagaimana dia bercerita tentang keluarganya yang broken home, kisah cintanya yang tragis dan menjadikannya trauma. Ya. Dia trauma. Dia tidak menikah hingga saat ini. Dan aku? Aku pernah beradu idealisme dengan mama 'mengapa setiap perempuan harus menikah'. Aku pernah memaparkan apa yang aku lakukan jika aku tidak menikah. Aku pernah memaparkan rencana kedepan hingga hari tua, apa yang akan aku lakukan kala aku sendirian. Aku katakan mulai dari menabung untuk diriku sendiri, mengasuh diriku kala aku tua, mengatasi kesepian hingga bagaimana mengatasi kebutuhan atas sex, hingga apa yang akan aku lakukan jika aku mendadak meninggal dunia atau jika aku meninggal dunia pada usia lanjut. Aku jelaskan apa yang harus dilakukan dan bahwa kematianku tidak akan membebani siapapun, walaupun aku tidak menikah. Mungkin aku akan memesan peti mati dan karangan bunga untuk diriku sendiri dan menitipkan wasiatku pada orang yang aku percaya... Rencana-rencanaku, membuat mama tercengang-cengang dan semakin menyuruhku untuk bergegas. Sebab aku membuatnya stress dan tidak dapat tidur nyenyak setiap malam. Walaupun aku kalah, walaupun aku menikmati dan bersyukur atas keluargaku sekarang, aku tidak akan pernah lupa saat-saat aku berada dekat dengan lingkungan itu. Saat aku memaksa hatiku untuk dekat dengan seseorang, memandangnya dengan mata yang berbeda dan tentu saja, membuat para lelaki berpikir ulang untuk mengencaniku. Aku sangat-sangat-sangat labil ketika itu.
God!
Aku menghela napas dan kembali bertanya kepada hatiku, mengapa hingga saat ini aku tidak menentang pernikahan para kaum gay ataupun tidak bersikap sinis pada mereka yang banci ataupun gay. Mengapa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol dan memahami caraku berpikir, bahwa aku memandang keseimbangan dunia dengan 'bagaimana jika kamu menjadi mereka." Well, kamu tidak akan menentang mereka ketika kamu ada didalamnya. Percayalah, tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan atau menjadi 'berbeda'.
Aku pun ingat bagaimana dia bercerita tentang keluarganya yang broken home, kisah cintanya yang tragis dan menjadikannya trauma. Ya. Dia trauma. Dia tidak menikah hingga saat ini. Dan aku? Aku pernah beradu idealisme dengan mama 'mengapa setiap perempuan harus menikah'. Aku pernah memaparkan apa yang aku lakukan jika aku tidak menikah. Aku pernah memaparkan rencana kedepan hingga hari tua, apa yang akan aku lakukan kala aku sendirian. Aku katakan mulai dari menabung untuk diriku sendiri, mengasuh diriku kala aku tua, mengatasi kesepian hingga bagaimana mengatasi kebutuhan atas sex, hingga apa yang akan aku lakukan jika aku mendadak meninggal dunia atau jika aku meninggal dunia pada usia lanjut. Aku jelaskan apa yang harus dilakukan dan bahwa kematianku tidak akan membebani siapapun, walaupun aku tidak menikah. Mungkin aku akan memesan peti mati dan karangan bunga untuk diriku sendiri dan menitipkan wasiatku pada orang yang aku percaya... Rencana-rencanaku, membuat mama tercengang-cengang dan semakin menyuruhku untuk bergegas. Sebab aku membuatnya stress dan tidak dapat tidur nyenyak setiap malam. Walaupun aku kalah, walaupun aku menikmati dan bersyukur atas keluargaku sekarang, aku tidak akan pernah lupa saat-saat aku berada dekat dengan lingkungan itu. Saat aku memaksa hatiku untuk dekat dengan seseorang, memandangnya dengan mata yang berbeda dan tentu saja, membuat para lelaki berpikir ulang untuk mengencaniku. Aku sangat-sangat-sangat labil ketika itu.
God!
Aku menghela napas dan kembali bertanya kepada hatiku, mengapa hingga saat ini aku tidak menentang pernikahan para kaum gay ataupun tidak bersikap sinis pada mereka yang banci ataupun gay. Mengapa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol dan memahami caraku berpikir, bahwa aku memandang keseimbangan dunia dengan 'bagaimana jika kamu menjadi mereka." Well, kamu tidak akan menentang mereka ketika kamu ada didalamnya. Percayalah, tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan atau menjadi 'berbeda'.
WaiPe.
Kemarin, 2 November 2011 adalah salah satu hari yang bersejarah selama aku masih bernapas. Aku bertemu seorang sahabat kala kami masih bocah! Aku mencarinya dari tahun 2001... Lama yah. 10 tahun. Bayangkan... 10 tahun mencari. Ternyata aku orang yang sabar untuk urusan beginian hmmm...
Aku ingat terakhir melihatnya di Abuba Steak, Jaksel. Waktu itu aku pergi bersama seorang teman. Sangat suprise menemukannya disana. Dia begitu cantik dan ceria seperti dulu. Aku melihatnya pergi dengan seorang pria, seniorku di DKV. Pria ini, seorang yang juga aku kenal. Dia sangat pintar, baik dan ramah. Senang melihatnya mendapatkan pria itu, dan aku melihat matanya cemerlang seperti matahari. Aku tahu dia sedang jatuh cinta. Lalu saat itulah pertemuan kami yang terakhir. Bertahun-tahun sesudahnya, aku mencarinya. Aku bertanya pada teman-teman dekatnya, aku pulang dan pergi ke rumah lamanya, bertanya pada mama namun tidak ada informasi yang dapat membawaku menemukannya.
Beberapa tahun yang lalu, mama bercerita bahwa dia batal menikah lalu setelah itu cerita tentangnya tidak dapat lagi jelas kudengar. Dia bagai hilang ditelan bumi. Aku ingat masa kecil yang kami habiskan bersama... Kami masih memiliki hubungan keluarga (jauh) dan dia sudah seperti seorang kakak perempuan bagiku. Seorang perempuan yang ceria, keren, cantik, punya banyak fans pria dan sangat-sangat menyenangkan. Aku merindukannya, aku selalu mencarinya.
Lalu kemarin adalah hari yang bersejarah. Sebab aku menemukannya tanpa sengaja. Dia pun ragu dan memanggil namaku dengan penuh keraguan. Aku berbalik dan menemukannya. TUHAN!! Aku tidak dapat menahan diri. Aku langsung memeluknya dan menangis. Ada perasaan yang meledak didalam diri kami, menjadikan kami sakit, bahagia dan ada beribu tanya, berjuta cerita yang ingin terurai. Ternyata selama ini kami saling mencari. Bertahun-tahun kami saling mencari. Kami saling berpelukan,.. dan menangis untuk waktu yang lama. Air mata mengalir begitu saja, aku sudah sangat rindu.
Kemudian kata-kata terurai bagai air, keluar dari bibirnya yang tipis. Matanya berkaca-kaca menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Tentang hidup, keluarga, sahabat dan orang-orang yang dicintainya. Dia bercerita tentang laki-laki yang dicintainya, juga sebuah hubungan yang sangat complicated sehingga membuatnya trauma. Dia masih sendiri hingga saat ini. Dia tidak menikahi siapapun, walaupun dia ingin kembali pada laki-laki itu. Terbersit keinginan untuk menyatukan mereka, tapi laki-laki yang dicintainya sudah menikah. Aku ingin sekali dia bahagia, dan dia berkata bahwa dia bahagia karena menemukan seorang teman untuk berbagi. Saat ini aku adalah satu-satu teman dan akan selalu menjadi temannya. Tahukah kamu? Dia masih mencintai laki-laki itu. Dan laki-laki itu adalah sahabat dari laki-laki yang pernah aku cintai, seseorang yang kenangannya masih tersimpan begitu rapi -- didalam hatiku. Kedua laki-laki itu adalah seniorku, satu jurusan, manusia DKV yang sangat genius... Baik aku dan gadis itu memiliki riwayat yang tidak jauh berbeda, hobi yang sama, sifat ceroboh yang sama, pemberontak keluarga, nekat, bandel, berani, cuek... bahkan caling gigi yang sama, dan juga... dua laki-laki yang sama-sama membenci kami (...)
Kisahnya, memukulku. Bagaimana mungkin seorang gadis yang begitu keren dan menjadi idola dapat memiliki kisah cinta yang begitu tragis? Dia adalah gadis yang sangat keren! Siapapun iri padanya! Aku pun iri sekaligus bangga padanya!! Tapi kesedihan dan luka hati telah memukulnya sedemikian dalam. Dia tidak menikah, masih terluka, tidak percaya diri dan labil... Dapatkah kamu bayangkan? Seseorang yang sangat aku idolakan, labil. Dia bahkan tidak percaya diri untuk bekerja. Dia tidak memiliki email, account Facebook atau yang sejenisnya, ponselpun seadanya yang membuatnya memang 'bagai lenyap ditelan bumi'. Lalu aku mengajaknya ke apartemen dan mengenalkannya pada suami dan anak-anakku. Kami sangat senang malam itu. Aku bahkan menelpon mama dan berkata bahwa aku telah menemukannya. Mama sangat-sangat senang. Rasanya mama pun menangis karena tahu betapa aku mencarinya selama ini. Tuhan, Engkau sungguh baik hati.
Aku sangat menyayanginya. Sepanjang jalan malam itu, kami saling bergandengan tangan, sesekali berhenti hanya untuk memeluk dan menciumnya. God, aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku tidak akan membiarkannya sendirian. Terima kasih Tuhan, karena telah menemukan dia untukku.
Sekarang, masih ada 1 teman lagi yang aku cari. Dia adalah seorang teman dari SMP, teman sebangku. Rentang waktunya? Dua puluh tahun. Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau telah menghendaki. Aku akan menunggu.
Aku ingat terakhir melihatnya di Abuba Steak, Jaksel. Waktu itu aku pergi bersama seorang teman. Sangat suprise menemukannya disana. Dia begitu cantik dan ceria seperti dulu. Aku melihatnya pergi dengan seorang pria, seniorku di DKV. Pria ini, seorang yang juga aku kenal. Dia sangat pintar, baik dan ramah. Senang melihatnya mendapatkan pria itu, dan aku melihat matanya cemerlang seperti matahari. Aku tahu dia sedang jatuh cinta. Lalu saat itulah pertemuan kami yang terakhir. Bertahun-tahun sesudahnya, aku mencarinya. Aku bertanya pada teman-teman dekatnya, aku pulang dan pergi ke rumah lamanya, bertanya pada mama namun tidak ada informasi yang dapat membawaku menemukannya.
Beberapa tahun yang lalu, mama bercerita bahwa dia batal menikah lalu setelah itu cerita tentangnya tidak dapat lagi jelas kudengar. Dia bagai hilang ditelan bumi. Aku ingat masa kecil yang kami habiskan bersama... Kami masih memiliki hubungan keluarga (jauh) dan dia sudah seperti seorang kakak perempuan bagiku. Seorang perempuan yang ceria, keren, cantik, punya banyak fans pria dan sangat-sangat menyenangkan. Aku merindukannya, aku selalu mencarinya.
Lalu kemarin adalah hari yang bersejarah. Sebab aku menemukannya tanpa sengaja. Dia pun ragu dan memanggil namaku dengan penuh keraguan. Aku berbalik dan menemukannya. TUHAN!! Aku tidak dapat menahan diri. Aku langsung memeluknya dan menangis. Ada perasaan yang meledak didalam diri kami, menjadikan kami sakit, bahagia dan ada beribu tanya, berjuta cerita yang ingin terurai. Ternyata selama ini kami saling mencari. Bertahun-tahun kami saling mencari. Kami saling berpelukan,.. dan menangis untuk waktu yang lama. Air mata mengalir begitu saja, aku sudah sangat rindu.
Kemudian kata-kata terurai bagai air, keluar dari bibirnya yang tipis. Matanya berkaca-kaca menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Tentang hidup, keluarga, sahabat dan orang-orang yang dicintainya. Dia bercerita tentang laki-laki yang dicintainya, juga sebuah hubungan yang sangat complicated sehingga membuatnya trauma. Dia masih sendiri hingga saat ini. Dia tidak menikahi siapapun, walaupun dia ingin kembali pada laki-laki itu. Terbersit keinginan untuk menyatukan mereka, tapi laki-laki yang dicintainya sudah menikah. Aku ingin sekali dia bahagia, dan dia berkata bahwa dia bahagia karena menemukan seorang teman untuk berbagi. Saat ini aku adalah satu-satu teman dan akan selalu menjadi temannya. Tahukah kamu? Dia masih mencintai laki-laki itu. Dan laki-laki itu adalah sahabat dari laki-laki yang pernah aku cintai, seseorang yang kenangannya masih tersimpan begitu rapi -- didalam hatiku. Kedua laki-laki itu adalah seniorku, satu jurusan, manusia DKV yang sangat genius... Baik aku dan gadis itu memiliki riwayat yang tidak jauh berbeda, hobi yang sama, sifat ceroboh yang sama, pemberontak keluarga, nekat, bandel, berani, cuek... bahkan caling gigi yang sama, dan juga... dua laki-laki yang sama-sama membenci kami (...)
Kisahnya, memukulku. Bagaimana mungkin seorang gadis yang begitu keren dan menjadi idola dapat memiliki kisah cinta yang begitu tragis? Dia adalah gadis yang sangat keren! Siapapun iri padanya! Aku pun iri sekaligus bangga padanya!! Tapi kesedihan dan luka hati telah memukulnya sedemikian dalam. Dia tidak menikah, masih terluka, tidak percaya diri dan labil... Dapatkah kamu bayangkan? Seseorang yang sangat aku idolakan, labil. Dia bahkan tidak percaya diri untuk bekerja. Dia tidak memiliki email, account Facebook atau yang sejenisnya, ponselpun seadanya yang membuatnya memang 'bagai lenyap ditelan bumi'. Lalu aku mengajaknya ke apartemen dan mengenalkannya pada suami dan anak-anakku. Kami sangat senang malam itu. Aku bahkan menelpon mama dan berkata bahwa aku telah menemukannya. Mama sangat-sangat senang. Rasanya mama pun menangis karena tahu betapa aku mencarinya selama ini. Tuhan, Engkau sungguh baik hati.
Aku sangat menyayanginya. Sepanjang jalan malam itu, kami saling bergandengan tangan, sesekali berhenti hanya untuk memeluk dan menciumnya. God, aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku tidak akan membiarkannya sendirian. Terima kasih Tuhan, karena telah menemukan dia untukku.
Sekarang, masih ada 1 teman lagi yang aku cari. Dia adalah seorang teman dari SMP, teman sebangku. Rentang waktunya? Dua puluh tahun. Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau telah menghendaki. Aku akan menunggu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

